TEKNOLOGI INDIA

India pesat sekali membangun sumber-sumber energinya, sehingga data-data cepat sekali usang. Total daya terpasang terakhir dilaporkan 130 Gwe lebih, 75% dari batubara. Setiap 2 minggu 1 blok pembangkit listrik baru didirikan, terbanyak masih PLTU-batubara sehingga India tidak lama lagi bakal menjadi negara ke 3, setelah AS dan RRC, yang paling merusak atmosfir bumi dengan gas buang PLTU nya.

Energi di India ini pelik. India sama seperti RRC, pengembangan sumber energi dikedua negara itu ambisius. Mereka punya SDM, industri manufaktur dan konstruksi yang sangat banyak untuk melaksanakan pembangunan pembangkit listrik secara besar-besaran. Tetapi tokh order dari ke 2 negara itu bahkan memenuhi kapasitas pabrik-pabrik ternama di negara-negara maju. Uang mereka kini melimpah, sehingga nafsu belanja meningkat drastis, tetapi tokh rasionil, mengejar pencapaian target-target, terutama mengentaskan kemiskinan atau memakmurkan rakyatnya.

Bhabha dibalik PLTN dan Bom Atom India.PLTN dan isu nuklir di India selalu hot sejak dulu, dipacu kekuatiran dan persaingan lawan RRC dan musuh bebuyutannya Pakistan (belakangan jauh tertinggal karena kekacauan ekonomi, fanatisme dan terorisme). Maka India diam-diam melakukan riset tentang senjata atom di Bhabha Atomic Research Centre, meskipun resminya diumumkan sebagai riset teknologi Atom Untuk Perdamaian. Tanpa mencolok dan tanpa tanda-tanda minat pada tujuan militer, India berhasil membeli sebuah reaktor riset Cirus 40MWt dari Kanada, lalu mengekstrak plutonium sisa pembakaran dari reaktor riset Cirus itu. Hampir 20 tahun berkutat dengan riset siang malam, akhirnya plutonium itu dipakai untuk percobaan bom atom India pertama pada 18 Mei 1974 yang berkekuatan ledak 4-6 KT. Pemerintah India mengumumkannya sebagai sebuah “Ledakan Nuklir yang Penuh Damai”. Sesudah itu, 24 tahun India sepi dari berita tes bom atom. Tiba-tiba perdana menteri Vajpayee memerintahkan serangkaian percobaan peledakan atom yang dinamakan “Operasi Shakti”, yakni Shakti 1 (11 Mei 1998) hingga Shakti 5 (13 Mei 1998), gara-gara diprovokasi oleh peluncuran rudal-percobaan Ghauri oleh Pakistan tgl 6 April 1998.Keberhasilan India memposisikan diri ke dalam jajaran negara bersenjata nuklir, menjadi negara pertama dari dunia ketiga yang membangun PLTN dan sekaligus sebagai negara dunia ketiga yang memiliki program nuklir terbesar, adalah berkat seorang ilmuwan fenomenal India, Dr H J Bhabha, yang memimpin dan merintis dunia ilmu dan program nuklir negara. Ia membangkitkan ambisi India atas nuklir, membawanya ke realitas di tanah India dan memperoleh segala prioritas utama dan dana besar dari negaranya. Semasa ia studi hingga meraih gelar doktor fisika di universitas Cambridge 1935 dan sebelum pulang ke India 1939, Bhabha sempat akrab dengan para fisikawan seperti Niels Bohr, James Franck, Enrico Fermi dll, yang di kemudian hari berperan besar dalam program persenjataan nuklir AS dan Inggris. Ia juga ikut aktif dalam penemuan dan pendalaman tentang fisi nuklir. Sohib kentalnya seregu dari uni Cambridge, W B Lewis, belakangan menjadi ketua Program Energi Nasional Kanada. Hubungan pribadi dengan Lewis inilah yang memungkinkan Bhabha memperoleh reaktor Cirus (heavy water) di tahun 1955 dari Kanada dengan panji tujuan riset damai untuk peningkatan kualitas hidup, namun kemudian selama puluhan tahun ditekuni oleh ahli-ahli India dan dipakai membuat plutonium untuk bom atom.Di Bombay, Bhabha mendirikan institut riset ilmu-ilmu inti 19 Desember 1945. Ia mencanangkan visi nuklir India dan menekuninya selama 20 tahun hingga akhir hayatnya. Ia adalah perintis sejati dibalik keberhasilan nuklir India, baik pada pembangunan PLTN India maupun penciptaan bom atom India kelak. Ini sekilas mirip dengan mantan politisi hi-tech kita. Tetapi Bhabha tidak one-man-show, ia rajin merekrut dan mendorong ilmuwan-ilmuwan cerdas India, seperti Homi Sethna, P.K. Iyengar, Vasudev Iya, Raja Ramanna dll, yang kemudian menjadi tokoh-tokoh besar kemajuan energi di India. Meskipun Bhabha juga sangat dekat dan punya pengaruh besar pada kebijakan perdana menteri Nehru dan Shastri, yang menetapkan prioritas dan program negara untuk pengembangan nuklir di India, namun ia tidak larut dalam politik praktis. Konsentrasinya tetap pada urusan riset dan pengembangan energi. Bhabha tegar di dunia ilmu, mengutamakan meritokrasi demi kemuliaan dan kejayaan segenap warga bangsanya, tidak terjebak oleh silau kekuasaan, tidak pernah tampil sebagai politikus karbitan yang menunggangi sentimen dan fanatisme sempit. Sebagai ilmuwan, ia rajin menghimbau rasionalitas bangsanya agar mampu membebaskan diri dari belitan primordialisme dan bangkit sejajar di antara bangsa-bangsa maju di dunia. Meskipun ambisi nuklir Bhabha juga menggerogoti ekonomi India, tetapi ia berhasil menaikkan pamor India sejajar dengan negara-negara pemilik nuklir. Ia menggairahkan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi yang sekarang terbukti menjadi motor kekuatan dan kemakmuran India. Lagi pula, saat itu resiko dan kerumitan PLTN belum sepenuhnya disadari dan belum nyata terbukti. Perdana menteri Indira Gandhi mengabadikan nama Bhabha pada nama institut yang didirikannya, setelah ia meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat 24 Januari 1966. Bhabha dikenang sebagai ilmuwan yang sangat memimpikan kemandirian bangsanya, tidak suka rendah diri atau menjilat, tetapi ia bukan demagog dan tidak pernah mengajak rakyatnya petentang-petenteng membenci bangsa-bangsa lain yang sudah lebih makmur. Kebanyakan orang India sangat mendukung pengembangan sumber energi di negaranya secara besar-besaran dan sampai sekarang masih dengan yakin mengutip kata-kata Bhabha ½ abad lalu: “No power is costlier than no power”, artinya kekurangan energi berakibat mandeknya ekonomi karena produktivitas rendah.Perjalanan Ambisi PLTN India.India memenuhi kebutuhan energinya 82% dari fosil dan 14% dari tenaga air. Konsumsi minyak saat ini 2,5 juta barel/hari, 70% impor, sehingga tiap tahun harus membelanjakan 25 milyar USD untuk impor minyak mentah. Batu bara adalah sumber energi utama untuk 75% pembangkit listrik India, sehingga India saat ini merupakan produsen batu bara nomor 3 terbesar dunia dengan cadangan yang cukup untuk 100 tahun lebih, karena India memiliki cadangan batu bara nomor 4 terbesar di dunia. Tetapi batu bara India kualitasnya buruk, kandungan abunya 15-45% dan nilai kalorinya rendah.Situasi dan alasan-alasan di atas dari dulu mendorong orang India sangat mendambakan energi nuklir. Tetapi meskipun sudah ½ abad lebih India berjuang dan membelanjakan dana yang luar biasa besar (25% dari total dana riset dan pembangunan nasional) untuk pengembangan dan percobaan nuklir, tokh sampai saat ini tidak lebih 3% pasokan energi yang diperolehnya dari PLTN. Di ballik reputasi dan pamor penguasaan teknologi oleh India yang mengharumkan negara itu, program PLTN nyaris membenamkan ekonomi India, yang menimbulkan ancaman anarki dan kemelut politik akibat ketidak-puasan rakyat atas kemiskinan yang berketerusan.Banyak kisah tragis dan gawat dalam kinerja PLTN India. Pada reaktor Rajasthan air berat yang mahal bocor terus yang berarti mengalirkan uang percuma ke selokan. Pencemaran radioaktif pada ribuan pekerja dan penduduk sekitar reaktor Tarapur diperkirakan dampaknya masih mengancam hingga 20 tahun. Hingga 1995 ada 9 reaktor PLTN dengan kapasitas total 1800 Mwe yang beroperasi di India, 2 di Tarapur, 2 di Rawatbhata, 2 di Kalpakkam, 2 di Narora dan 1 di Krakapur. Semuanya pernah bermasalah dengan keamanan dan kebocoran radiasi, sehingga seringkali harus di non-aktifkan selama berbulan-bulan bahkan tahunan. Kecilnya output PLTN-PLTN India, sebab rata-rata kinerjanya cuma 45%, padahal nilai ekonomisnya harus beroperasi di atas 70%.India hampir sepenuhnya tergantung pada pasokan bahan bakar dan teknologi dari AS. Ibarat sudah kepalang basah, India mungkin akhirnya bisa berhasil dengan program energi dari nuklirnya, sebab pengetahuan dan kemampuan sudah dikuasainya, tetapi pasti masih dengan skala yang sangat tidak ekonomis. Kisah PLTN India membuktikan, betapa uang yang ditanamkan ke sana, sesungguhnya bisa dipakai untuk membangun dan mengoperasikan sumber energi lainnya dengan hasil yang jauh lebih menguntungkan. Sekaligus membuktikan, betapa sulitnya menghasilkan prestasi hanya dengan idealisme semata, tetapi sambil kelaparan. Akibat fakta-fakta negatif tentang energi nuklir ini, resiko dan rawannya keamanan, serta merebaknya tentangan para evironmentalis, dipastikan bahwa nuklir belum akan punya peran berarti sebagai sumber energi di India untuk setidaknya 20 tahun kedepan.

Masa Depan PLTN India.Saat ini India dan AS hampir merampungkan pakta nuklir bersama, yang memungkinkan India untuk pertama kalinya dalam 33 tahun, bisa memperolah bahan bakar dan reaktor modern dari AS, setelah melalui perjuangan serta perundingan panjang dan mahal. Sebelumnya India diembargo AS atas segala barang yang berkaitan dengan nuklir akibat percobaan bom atom India 1974. Tetapi AS masih keberatan mengijinkan India membeli mesin-mesin AS untuk mengolah sendiri sisa bahan bakar PLTN, yang rawan disalahgunakan untuk membuat bom atom dan kuatir ancaman teroris. Namun tampaknya AS bakal makin merangkul India, yang menginformasikan bahwa belanja militer RRC sudah melebihi 120 milyar dollar (wouuu … 2x APBN RI hanya buat mesin perang), meskipun RRC bilang cuma 40 milyar dollar, sehingga AS blingsatan dan minta RRC lebih transparan.Terakhir jumlah kapasitas PLTN terpasang dilaporkan 3,31 Gwe atau kurang 3% dari seluruh sumber energi India. Ketua komisi energi atom India, Anil Kalkodhar, mencanangkan peningkatannya menjadi 20 Gwe hingga tahun 2030 dan ditambah dengan proyek yang masih ditahap pembangunan mencapai skala 40 Gwe, yang akan dilaksanakan dalam skema kerja sama internasional dengan biaya $ 40 milyar. AS sendiri malah memperkirakan bakal adanya potensi bisnis bernilai lebih dari $ 100 milyar yang muncul dari sedikitnya 30 reaktor baru di India, jika kesepakatan AS – India mengenai pengembangan energi nuklir India bisa dituntaskan. Bisnis “nyam-nyam” itu bakal dijaring melalui United States GE, Westinghouse Electric Co, ASE, Framatome ANP, Electricite de France, Atomic Energy of Canada Ltd dll. Perusahaan-perusahaan ini sedang bergerilya untuk meyakinkan pemerintah dan parlemennya, agar cepat mencapai kesepakatan guna mengijinkan export untuk barang-barang sensitif tersebut. Namun andaipun ambisi ini tercapai, dan India sanggup konsisten mengeluarkan dana spektakuler itu, PLTN pada saat itu baru akan memenuhi 12,5% kebutuhan energi di India.

Bahan Perbandingan bagi Negara-negara Dunia Ketiga.Realitas PLTN di India memberikan contoh bagi negara-negara di dunia ketiga untuk dapat membuat keputusan dengan arif. Banyak institusi internasional yang sepintas kelihatan berbobot ilmiah dan pakar-pakar yang seolah-olah memaparkan hasil kajian scientific, tetapi sesungguhnya bekerja sesuai arahan pemesannya, yakni para CEO multi-korporasi pembuat mesin-mesin PLTN dari negara-negara industri maju, demi sales dan order yang menghasilkan profit cemerlang, Di negaranya, PLTN diputuskan tidak akan dibangun lagi dan yang terlanjur ada satu-persatu akan ditutup. Maka kini para CEO itu giat melobi pemerintahnya dan meyakinkan bahwa meskipun mesin-mesin PLTN itu disupplai ke negara-negara dunia ketiga, tetapi ketergantungan dan kontrol penuh atas mesin-mesin itu tetap mutlak di tangan mereka. Paralel mereka juga mensponsori banyak lembaga dan pakar untuk membuat makalah-makalah tentang kecanggihan, keamanan dan kelayakan PLTN modern. Dukungan luas juga diperoleh akibat kekuatiran atas emisi gas CO2 dan pemanasan global, sehingga masyarakat di negara maju menginginkan negara-negara berkembang melakukan expansi sumber energi yang tidak merusak atmosfir bumi, termasuk PLTN. Padahal mereka sangat anti dengan pembangunan PLTN di negaranya dan lebih menyukai saat ini reaktor-reaktor yang dipropagandakan canggih dan aman itu diuji-cobakan dulu di negara-negara lain yang belum maju. Kalau perlu dengan slogan bantuan atau sumbangan kerja sama untuk kemakmuran. Maka kearifan sungguh diperlukan bagi para pemimpin negara-negara berkembang, apakah arogansi, ambisi dan pamor politik akan merelakan negaranya dijadikan kelinci percobaan, mempersembahkan untung besar dan menambah kemakmuran bagi bangsa-bangsa kaya pemasok mesin-mesin PLTN, sekaligus memaksa seluruh rakyat anak negeri sendiri memikul biayanya terus-menerus selama puluhan tahun.Program energi nuklir India memang kontroversial, tetapi India selamat berkat sukses pertumbuhan ekonomi yang berhasil secara konsisiten diwujudkannya sejak 16 tahun lalu, yang menurunkan angka buta-huruf, kebodohan, pengangguran, kemelaratan dan serentak menjadikan India sebagai calon pemain ekonomi terkuat dunia dalam beberapa dasawarsa berikut.Kini di India sebagai negara demokratis terbesar dunia dengan meluasnya peran kaum intelektuelnya, juga muncul gerakan “wisdom” yang sangat kuat, yang mengkoreksi strategi pengembangan energi di India. Gaung untuk memprioritaskan tumbuhnya sumber-sumber energi non-konvensional atau sumber energi terbarukan, seperti: panas-bumi, angin, matahari, biomass dan air makin gencar dan bergema kuat di India. Meskipun investasinya sangat mahal (dulu tidak dilirik akibat terdesak oleh batu bara yang cadangannya berlimpah di India), kini pemerintah India memberikan insentif yang besar. Secara persentual, saat ini peran sumber energi terbarukan ini masih sangat kecil. Namun kita bisa menengok lagi 10-20 tahun ke depan. Apakah India tidak cuma bisa menghapus kemiskinan dan menjadi negara kuat, tetapi juga bisa menyelenggarakan pemenuhan kebutuhan energinya secara bijak, tanpa pemborosan biaya serta mandah dieksplotir oleh negara-negara barat yang lebih dulu maju. Apakah India bisa menghindari hujatan dunia yang menuduhnya sebagai penyebab utama perusakan global atmosfir bumi. Dan akhirnya, apakah India yang kaya dan maju kelak juga sekaligus menjadi penunjang perdamaian abadi dunia. 

Kerjasama Bioteknologi India dan Pakistan

India dan Pakistan telah membangun kolaborasi bioteknologi saat pertemuan BioAsia 2004 di Hyderabad minggu lalu. Saat pertemuan berlangsung, delegasi dari Pakistan menandatangani lima persetujuan – tiga dengan perusahaan bioteknologi India, dan dua dengan Asosiasi Biotek India (India Biotech Association/AIBA).

Menurut direktur Komisi Nasional Bioteknologi, Anwar Nasim, Pakistan bermaksud untuk berkolaborasi dengan perusahaan India dalam industri produk, vaksin, alat diagnosa dan tanaman transgenik. Juga, perusahaan bioteknologi di India akan mendapatkan keuntungan dari pembukaan sebuah potensial market di Pakistan.

Dalam persetujuan tersebut, AIBA akan membantu Pakistan untuk membangun asosiasi bioteknologi, dan menyediakan beberapa teknologi India yang dapat digunakan secara resemi di Pakistan. Teknologi India juga dapat membantu Pakistan untuk mengurangi biaya obat-obatan yang cukup mahal dibanding obat-obat tersebut diproduksi di India.

Lebih lanjut lagi, hubungan antara peneliti India dan Pakistan terlihat menjanjikan. Indian National Science Academy (INSA) dan Pakistan Academy of Sciences meminta untuk meluncurkan diskusi tersebut ke tahap yang lebih serius, terutama pada pertanian dan malaria.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: