PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG DILAKUKAN INDIA DENGAN ASEAN

ASEAN Sepakati Perjanjian CEP dengan Jepang dan India

Nusa Dua, Kompas – Para pemimpin negara ASEAN akan menandatangani perjanjian mengenai Comprehensive Economic Partnership (CEP)-embrio free trade area (FTA)-dengan pemimpin negara Jepang dan India dalam Konferensi Tingkat Tinggi ke-9 ASEAN yang akan berlangsung tanggal 7-8 Oktober 2003. Dengan CEP itu, diharapkan negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia, dapat meningkatkan volume perdagangan dengan Jepang dan India.

“Menurut rencana, di tingkat kepala negara, akan ditandatangani dua perjanjian CEP, yaitu ASEAN dengan Jepang dan ASEAN dengan India,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Kerja Sama Industri dan Perdagangan Internasional (KIPI) Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag) Pos Hutabarat, di Nusa Dua, Denpasar, Sabtu (4/10). FTA ASEAN dengan Jepang dan India ditargetkan dapat tercapai pada tahun 2012.

Sebelumnya, tahun 2002, pemimpin negara ASEAN juga sudah menandatangani perjanjian FTA dengan Cina (ASEAN-China Free Trade Agreement). Melalui FTA ASEAN dengan Cina itu, ada sekitar 600 produk yang akan diturunkan tarifnya secara bertahap.

Jika FTA dengan Jepang, India, termasuk Cina dilakukan, lanjut Hutabarat, hal itu akan menguntungkan Indonesia, termasuk negara-negara ASEAN lainnya karena produk-produk Indonesia akan mempunyai pangsa pasar yang lebih besar di Jepang dan India. Selain itu, perdagangan intra ASEAN pun diharapkan dapat meningkat. “Penduduk India satu miliar, Cina sekitar 1,2 miliar, Jepang 130 juta, dan ASEAN sendiri mencapai 550 juta orang,” katanya.

Dari catatan yang ada, nilai perdagangan ASEAN dengan Jepang tahun 2002 mencapai 97,64 miliar dollar AS. Tahun 2001, nilai perdagangan ASEAN dengan Jepang mencapai 101,63 miliar dollar AS. Tahun 2000, nilai perdagangan ASEAN dengan Jepang sebesar 120,37 miliar dollar AS. Sementara itu, nilai perdagangan ASEAN dengan India pada tahun 2001 sebesar 9,88 miliar dollar AS dan tahun 2000 sebesar 9,76 miliar dollar AS.

Hutabarat menjelaskan, ASEAN-Jepang Comprehensive Partnership (ASEAN-Jepang CEP) merupakan kesepakatan yang disampaikan Perdana Menteri (PM) Jepang Junichiro Koizumi bulan Februari 2002 saat berkunjung ke negara-negara ASEAN. PM Koizumi menyampaikan, CEP merupakan “platform” penting untuk memperkuat kemitraan ekonomi kawasan.

Inisiatif itu, lanjut Hutabarat, dituangkan dalam Deklarasi bersama (joint statement) pada pertemuan tingkat kepala negara pada 5 November 2002 di Phnom Penh, Kamboja. Perjanjian ASEAN Jepang CEP kemudian akan ditandatangani oleh kepala negara ASEAN dan Jepang pada KTT ASEAN tanggal 8 Oktober 2003 di Bali.

Hutabarat menjelaskan, kesepakatan FTA ASEAN dengan India akan tertuang dalam ASEAN-India Regional Trade and Investment Area (RTIA). Gagasan mengenai kerja sama ekonomi ASEAN dengan India muncul saat pertemuan menteri-menteri ekonomi ASEAN dan India di Brunei Darussalam tanggal 15 September 2002.

Saat itu, lanjut Hutabarat, menteri-menteri ekonomi menugaskan para pejabat senior membentuk satuan tugas (task force) dalam rangka menyusun konsep perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif antara ASEAN dengan India (Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between ASEAN and Republic of India).

Penurunan tarif

Hutabarat menjelaskan, sebagai konsekuensi dari perjanjian FTA ASEAN dengan Jepang dan India itu, masih akan dibahas proses penurunan tarif dari produk-produk yang akan diturunkan tarifnya secara bertahap.

Untuk ASEAN dengan India, ada 105 produk yang akan diturunkan tarifnya secara bertahap (early harvest program/EHP). Misalnya, produk kayu (plywood), alas kaki, produk kulit, dan produk bahan kimia.

Untuk ASEAN dengan Jepang, menurut Hutabarat, belum ditentukan produk-produk yang akan diturunkan tarifnya karena Jepang masih menunggu hasil perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Meskipun demikian, pembahasan mengenai penentuan produk yang akan diturunkan tarifnya secara bertahap itu diharapkan selesai tahun 2005.

Hutabarat menambahkan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) Rini MS Soewandi bersama menteri perindustrian dan perdagangan anggota ASEAN juga akan menandatangani kesepakatan perubahan perjanjian FTA ASEAN dengan Cina yang sudah dilakukan sebelumnya. Perubahan perlu dilakukan karena Thailand menambahkan produk-produk yang akan diturunkan tarifnya.

“FTA ASEAN dengan Cina itu disepakati sekitar 600 produk untuk dilakukan penurunan tarif. Namun, Thailand terlalu cepat dan menambahkan 200 produk tambahan,” kata Hutabarat. Produk yang diturunkan tarifnya secara bertahan dalam FTA ASEAN-Cina adalah produk-produk pertanian.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: